Ia harus dapat mengerti orang-orang yang jahil dan orang-orang yang sesat, karena ia sendiri penuh dengan kelemahan” (Ibrani 5:2 – TB).

Imam Besar yang dipilih dari antara manusia harus dapat metriopatheó, sebuah kata Yunani yang bermakna ‘menahan emosi terhadap’. Lebih spesifik, kata ini, metriopathé?, berasal dari kata metri, “instrumen untuk mengukur” dan páthos, “perasaan”. Jadi, metriopatheó berarti merasakan secara tepat, yaitu dengan intensitas yang diukur secara ilahi (moderasi yang dikendalikan Tuhan; Merasa dengan intensitas yang diukur secara ilahi). Kata ini mengungkapkan perasaan diskriminatif (empati) yang tidak terlalu parah atau terlalu toleran, dan hanya digunakan dalam Ibr 5:2, yang pada akhirnya mengacu pada pelayanan Kristus.

Alkitab versi Bahasa Indonesia Masa Kini (BIMK) juga menerjemahkan menjadi sebagai berikut, “Imam agung itu sendiri lemah dalam banyak hal, dan karena itu ia dapat berlaku lemah lembut terhadap orang-orang yang tidak tahu apa-apa dan yang sesat jalannya” (Ibrani 5:2 – BIMK). Imam besar pilihan dari antara manusia itu haruslah berlaku lemah lembut, terhadap orang-orang tidak tahu apa-apa, bahkan yang sesat jalannya.

Yesuslah puncak penggenapan Ibrani 2 ini. Alkitab mencatat tentang, “Kristus yang lemah lembut dan ramah” (2 Korintus 10:1). Bedanya dengan Imam Besar manusia, Yesus sempurna, tetapi dalam kemanusiaan Ia telah turut merasakan keterbatasan dan pencobaan yang menyerang kita. Itu sebabnya Ia mampu menjadi Imam Besar Agung yang lemahlembut dan ramah.

Source link