[T]etapi jikalau tanah itu menghasilkan semak duri dan rumput duri, tidaklah ia berguna dan sudah dekat pada kutuk, yang berakhir dengan pembakaran” (Ibrani 6:8 – TB).

Tanah di sini, menurut konteks dekat ayat ini, menjadi gambaran kehidupan seseorang yang murtad. Tanah yang menghasilkan semak duri dan rumput duri di sini pun, merujuk pada Kejadian 3:17-18, yaitu keadaan terkutuk dari tanah, setelah kejatuhan manusia pertama ke dalam dosa.

Tanah bersemak duri dan berumput duri ini pun disebut tidak berguna atau sia-sia. Jadi, kehidupan manusia setelah manusia pertama jatuh ke dalam dosa pun adalah kesia-siaan. Demikian juga mereka yang murtad, mereka hidup dalam satu kehidupan yang -selama ini ternyata- sia-sia. Kesia-siaan yang berujung kepada pembakaran di dalam keadaan terkutuk.

Menarik sekali karna keadaan ciptaan setelah kejatuhan, dipadankan dengan keadaan manusia yang murtad. Seolah hendak dinyatakan bahwa orang yang murtad, pada dasarnya memang dari sejak awal masih ada dalam jerat dosa dan kesia-siaan yang diakibatkan dosa Bapa Adam.

Namun kita yang semua yang telah menerima Yesus Kristus, menerima pula kehidupan yang lebih baik. Kehidupan yang tidak lagi sia-sia. Kehidupan yang kekal, dan bukan pembakaran kekal. Kehidupan yang bermakna, yang harus dikerjakan dengan giat.

Source link