Yesus berkata pula kepada mereka: ‘Sungguh pandai kamu mengesampingkan perintah Allah, supaya kamu dapat memelihara adat istiadatmu sendiri’” (Markus 7:9 – TB).

Bob Utley menjelaskan tentang frasa, “mengesampingkan perintah Allah, supaya kamu dapat memelihara adat istiadatmu sendiri.” Menurut Utley, “Masalahnya adalah wahyu (PL) versus tradisi (Talmud).” Lebih dalam tentang adat-istiadat ini, Utley menulis, “Tradisi-tradisi ini (lih. Gal 1:14) dikodifikasikan dalam Talmud (yaitu, Mishna). Ada dua edisi dari tradisi kerabian ini. Yang lebih lengkap adalah dari Talmud Babel dan yang belum selesai adalah dari Palestina. Studi modern atas literatur ini telah terhambat karena tidak ada seorangpun yang tahu kapan aslinya diskusi ini diucapkan atau direkam. Dua mazab penafsiran kerabian di kemudian hari berkembang, satu konservatif (yaitu, Shammai) dan satu liberal (yaitu, Hillel). Semua masalah diperdebatkan berdasarkan diskusi rabi ini. Para rabi akan mengutip para pendahulu mereka sebagai berkewenangan.” Jadi, orang Farisi dan ahli Taurat yang Yesus jumpai, lebih memilih berpegang pada Talmudnya, ketimbang pada Firman Allah.

Secara sederhana, Talmud adalah komentar-komentar tentang Firman Allah. Komentar-komentar itu sendiri seringkali justru tidak memerjelas, tetapi makin menambah kerumitan pemahaman. Sama seperti dalam kekristenan, seringkali belajar teologi dari tafsiran-tafsiran menjadi lebih rumit daripada ketika seseorang membaca Firman Allah.

Namun teguran Yesus ini utamanya mengingatkan kita kembali kepada masalah otoritas (Jadi Yesus tidak bermaksud mengajarkan kita untuk tidak belajar teologi. Tidak demikian maksudnya!). Apa atau siapa yang menjadi otoritas tertinggi kita?

Pergumulan Hawa saat menghadapi godaan ular di Taman Eden terus menjadi pergumulan manusia di sepanjang segala abad. Standar baik siapakah yang hendak diikuti. Kejadian 1-2 memerlihatkan Allah dan FirmanNyalah yang menjadi standar untuk segala sesuatu disebut baik. Namun sampai pada Kejadian 3, Hawa mulai menentukan apa yang baik menurut standarnya sendiri. Ia melihat bahwa buah itu baik. Hawa memilih otonomi (self-law) dari Allah; menjadi hukum bagi dirinya sendiri. Itulah yang sedang dijalani oleh orang Farisi dan ahli Taurat di zaman Yesus.

Di Perjanjian Baru, bicara soal tradisi, bisa bermakna negatif seperti dalam nats ini, tetapi bisa juga bermakna positif, yaitu Injil yang harus diteruskan dari generasi ke generasi. Terkait dengan konteks ini, kita tentu harus belajar mewaspadai tradisi (dalam pengertian negatif) yang berusaha menggantikan posisi otoritatif Firman Allah dalam hidup kita. Bagaimana dengan kita saat ini, yang telah menyerahkan hidup kepada Yesus Kristus yang telah mati, bangkit, dan naik? Siapa yang menjadi otoritas tertinggi kita? Allah atau diri kita sendiri lewat tradisi-tradisi kita? Perkataan siapakah yang harus kita turuti?

Source link