Jawab orang-orang Yahudi itu: ‘Bukan karena suatu pekerjaan baik maka kami mau melempari Engkau, melainkan karena Engkau menghujat Allah dan karena Engkau, sekalipun hanya seorang manusia saja, menyamakan diri-Mu dengan Allah’” (Yohanes 10:33 – TB).

Bagi kita, pernyataan Yohanes dalam Injilnya ini semakin menegaskan kebenaran klaim Yesus akan diriNya, yaitu bahwa Ia adalah Allah. Mengapa? Karena ‘pengakuan’ itu justru muncul -secara tidak langsung- dari pemahaman musuh-musuh Yesus tentang klaim Yesus tersebut. Apa yang merupakan serangan terhadap figur Yesus -bagi kita hari ini- justru memerkuat klaim Yesus, yaitu bahwa bahkan bagi para pendengar Yesus di zaman itu, apa yang Yesus katakan dapat ditafsirkan sebagai klaim Yesus bahwa diriNya adalah Allah. Jadi, siapa bilang bahwa di Alkitab tidak dapat ditemukan klaim Yesus soal ke-Allah-anNya?

Pernyataan Yesus ini juga menegaskan bahwa Alkitab sungguh Firman Allah karena tidak menyembunyikan fakta yang nampaknya buruk tentang figur Yesus. Jika mengingat konteks pembaca Injil Yohanes di zaman itu, tentu lumayan tidak menguntungkan untuk menggambarkan figur Yesus sebagai sosok yang bertentangan dengan pandangan masyarakat (terutama tokoh-tokoh agama) di zaman itu. Seandainya penulis Alkitab adalah murni karya manusiawi saja -tanpa inspirasi Ilahi- tentu fakta-fakta yang menguntungkan sajalah yang akan ditampilkan tentang figur Yesus ini. Namun justru adanya catatan ‘skandal’ ini, justru menunjukkan keilahian tulisan Yohanes.

Yesus sungguh adalah Allah. Itu adalah klaim Yesus sendiri. Dia terancam dirajam karena klaimNya itu. Sebuah ancaman yang wajar jika membayangi kita pula. Bagaimana pun Dia adalah kepala dan kita adalah tubuhNya. Yesus adalah Allah, itu adalah kebenarannya.

Source link