Sebab sekalipun kamu, ditinjau dari sudut waktu, sudah seharusnya menjadi pengajar, kamu masih perlu lagi diajarkan asas-asas pokok dari penyataan Allah, dan kamu masih memerlukan susu, bukan makanan keras. Sebab barangsiapa masih memerlukan susu ia tidak memahami ajaran tentang kebenaran, sebab ia adalah anak kecil. Tetapi makanan keras adalah untuk orang-orang dewasa, yang karena mempunyai pancaindera yang terlatih untuk membedakan yang baik dari pada yang jahat” (Ibrani 5:12-14 – TB).

Pertama-tama, perlu disadari bahwa konteks yang dituju penulis Surat Ibrani ini adalah orang Kristen yang berlatarbelakang agama Yahudi (Yudaisme). Mereka dianggap oleh penulis surat ini sebagai orang-orang yang belum dewasa. Menurut Bob Utley, istilah ‘orang-orang dewasa’ di ayat 14 menjelaskan bahwa, “Istilah ini berasal dari akar Yunani yang sama yang diterjemahkan sebagai ‘sempurna’ dalam Ibr 5:9. Telos berarti dewasa, lengkap untuk tugas yang diberikan…. Kemanusiaan Yesus adalah teladan dari kesetiaan dan pertumbuhan sampai kedewasaan (lih. ay Ibr 5:8-9), tepat seperti bagaimana kehidupan para pembaca seharusnya. Orang-orang Yahudi percaya ini memang telah mengalami beberapa penganiayaan (lih. Ibr 12:4), tetapi mereka cenderung menarik diri kembali (lih. ‘menyusut kembali,’ Ibr 10:38) ke dalam Yudaisme yang relatif lebih aman.” Tidak mengherankan jika di Surat Ibrani, penulis harus ‘bersusah payah’ kembali menjelaskan kepada pembacanya keunggulan Yesus Kristus mengatasi segala aturan agama di Perjanjian Lama.

Bob Utley juga menjelaskan mengapa para pembaca Kristen-Yahudinya dikatakan sebagai orang-orang yang ‘seharusnya’ sudah menjadi pengajar (tapi ternyata belum bisa)? Karena “[M]eskipun orang-orang percaya ini telah menjadi Kristen cukup lama mereka belum dewasa. Panjangnya waktu tidak secara langsung berhubungan dengan kedewasaan. Sepertinya mereka terus saja bersekutu dengan orang Yahudi tidak percaya atas dasar pokok-pokok Yahudi yang tidak kontroversial. (lih. Ibr 6:1-2). Ini kemungkinan (1) untuk menghindari penganiayaan dari pemerintah dan/atau (2) untuk menghindari komitmen pada ‘amanat agung’ yang disyaratkan bagi orang Kristen.”

Semua yang penulis kritisi dari kehidupan para pembaca Yahudi-Kristennya, senantiasa juga menjadi bahan evaluasi dari setiap orang percaya sepanjang segala abad. Apakah kita bertumbuh dalam perjalanan kehidupan Kristen kita? Kita menjadi sangat prihatin ketika menemukan seseorang yang dari segi usia, seharusnya tidak lagi memiliki pemahaman seperti kanak-kanak, tetapi ternyata masih. Mengapa keprihatinan yang sama tidak menjadi keprihatinan kita dalam perkara kehidupan rohani kita? Apakah seiring waktu kita makin lengkap untuk mampu menunaikan tugas yang diembankan Sang Raja segala raja yang kini bertakhta duduk di sebelah kanan Allah Bapa?!

Source link