Tidak lama kemudian tibalah hari raya Pentahbisan Bait Allah di Yerusalem; ketika itu musim dingin. Dan Yesus berjalan-jalan di Bait Allah, di serambi Salomo. Maka orang-orang Yahudi mengelilingi Dia dan berkata kepada-Nya: ‘Berapa lama lagi Engkau membiarkan kami hidup dalam kebimbangan? Jikalau Engkau Mesias, katakanlah terus terang kepada kami’” (Yohanes 10:22-24 – TB).

Utley menjelaskan soal ‘hari raya penahbisan Bait Allah’ ini demikian, “Yosefus menyebutnya ‘Perayaan Cahaya.’ Perayaan ini dikenal di jaman kita sebagai Hanukkah. Ini adalah perayaan delapan hari yang muncul disekitar pertengahan bulan Desember. Hari ini merayakan pentahbisan kembali dari Bait Suci di Yerusalem setelah kemenangan militer dari Yudas Makabeus dalam tahun 164 S.M. Dalam tahun 168 S.M., Antiokhus IV Epifanes, yang adalah seorang pemimpin Seleucid, mencoba untuk memaksakan orang Yahudi kepada praktek-praktek Helenistik (lih. Dan 8:9-14). Ia mengubah Bait Suci di Yerusalem menjadi kuil kafir bahkan dengan mendirikan mezbah Zeus di dalam Ruangan Suci. Yudas Makabeus, satu dari beberapa anak dari imam dari Modin, mengalahkan maharaja Syria ini dan menyucikan serta mentahbiskan kembali Bait Suci.”

Sementara umat Israel merayakan penahbisan Bait Allah, mereka tidak sadar bahwa di antara pilar-pilar Serambi Salomo, ada Bait Allah sejati sedang berjalan di tengah-tengah mereka. Ada keturunan Daud yang dijanjikan itu, yang melampaui Salomo. Namun ironisnya, Bait Allah sejati itu justru dipertanyakan keberadaanNya sebagai Mesias; Yang Diurapi.

Ironi yang sama bisa jadi terus terjadi di tengah-tengah persekutuan kita. Kehadiran Kristus yang tak dikenali atau dipertanyakan. KehadiranNya lewat FirmanNya yang terus-menerus ditolak.

Biarlah kehadiranNya di tengah-tengah kita melalui FirmanNya, dapat kita kenali. Kiranya Roh Kudus menolong kita untuk mengakui pemerintahanNya di tengah-tengah umat lewat FirmanNya. Karena melakukan yang sebaliknya menghadirkan ironi dalam kehidupan kita, dan kita kehilangan berkat yang sudah ada di tengah-tengah kita.

Source link