Camkanlah betapa besarnya orang itu, yang kepadanya Abraham, bapa leluhur kita, memberikan sepersepuluh dari segala rampasan yang paling baik” (Ibrani 7:4 – TB).

Ibrani 7 adalah bagian Perjanjian Baru yang secara khusus mengajarkan tentang keunggulan keimamatan Yesus. Kita mengetahui bahwa ‘imam’ di Perjanjian Lama adalah salah satu dari tiga jabatan yang menuntut pengurapan. Jadi lengkapnya, di dalam Perjanjian Lama, tiga jabatan ini menuntut pengurapan yaitu Nabi, Imam, Raja. Mereka yang mengemban salah satu dari ketiga jabatan ini harus diurapi (saat itu menggunakan minyak), dan salah satunya adalah jabatan imam.

Tentang pengurapan itu sendiri, Yesaya 61:1 menunjukkan bahwa pengurapan adalah tanda bahwa Roh Kudus ada pada diri seseorang, dan Yesaya 61 ini ditulis sebagai nubuatan akan Mesias, yang kemudian digenapi dalam Yesus Kristus. Yesus adalah Mesias yang dimaksud. Ia adalah ‘Yang Diurapi’ (Mesias dalam bahasa Ibrani atau Kristus dalam bahasa Yunani, artinya sama-sama, ‘yang diurapi’). Sebagai yang diurapi, Yesus mengemban jabatan Raja, Imam, dan Nabi (dijelaskan dalam banyak ayat di Alkitab). Sebagai Mesias atau Kristus, Roh Kudus ada pada Yesus. Ini menjadi nyata saat peristiwa Yesus dibaptis. Saat keluar dari air, Roh Kudus turun ke atas Yesus. Jadi, pembaptisan Yesus adalah peristiwa Yesus diurapi (bukan ditandai dengan minyak, tetapi dengan air. Jadi setiap orang Kristen yang dibaptis oleh Roh Kudus -yang ditandai dengan baptisan air- adalah orang-orang yang diurapi, bukan pendeta saja. Jadi, teologi kontemporer soal ‘minyak urapan’ itu sulit dipertanggungjawabkan secara teologis). Nah, sebagai yang diurapi, bagaimana soal status Yesus sebagai Imam Besar Agung? Darimana garis keimamatanNya? Bukankah Yesus bukan keturunan Lewi?

Seorang Imam Besar adalah orang yang diurapi Allah (contoh: Harun). Dan yang disebut imam ini haruslah keturunan Lewi (Harun sendiri adalah orang Lewi). Orang Lewi adalah salah satu suku Israel (anak Yakub) yang telah dikhususkan untuk melayani Allah dan mewakili umat di hadapan Allah. Tidak ada orang yang boleh menjadi imam, apalagi imam besar, selain dari garis Suku Lewi.

Menariknya, Surat Ibrani mengklaim bahwa Yesus Kristus memangku jabatan Imam Besar. Padahal Yesus bukan orang Lewi. Yesus lahir dari Suku Yehuda (garis yang melahirkan raja-raja, dan bukan imam). Lalu dari garis manakah, Yesus dapat diklaim status keimamatanNya? Nah, disinilah Ibrani pasal 7 menjelaskannya.

Dijelaskan dalam Ibrani pasal 7 bahwa keimamatan Yesus mengikuti garis Melkisedek. Seorang tokoh misterius di Perjanjian Lama yang melayani El-Elyon (Allah Mahatinggi – Kej. 14:18). Dan kepada Melkisedek (seorang raja sekaligus imam di Salem), Abraham (nenek moyang Suku Lewi) memersembahkan persepuluhan dari rampasan perang. Artinya, Melkisedek lebih besar dari Abraham, dan otomatis juga lebih besar dari Suku Lewi. Artinya, keimamatan Yesus, lebih besar dari keimamatan Suku Lewi. Suku Lewi harusnya (bersama Abraham) turut menghormati Melkisedek dan imam yang muncul dari ‘garisnya melkisedek’, yaitu Yesus, Sang Kristus.

Jadi, dengan menunjukkan garis keimamatan Yesus yang lebih unggul, penulis Surat Ibrani bermaksud mengarahkan pandangan orang Israel kepada Yesus sebagai yang terutama dan terbesar.Yesus lebih besar dari Musa, Harun, dan seluruh keimamatan Lewi. Yesuslah yang jadi fokus dalam Ibrani 7 ini, bukan soal persembahan dan lain-lain. Justru, dalam Ibrani 7 ini, hendak ditekankan bahwa seluruh keimamatan Lewi, termasuk semua sistem persembahannya, tunduk pada keimamatan Yesus.

Yesuslah yang terbesar. Yesuslah yang terutama. Apakah hal yang demikian nyata dalam kehidupan kita? Bukankah adalah hal yang terbesar pula, apa yang telah Ia kerjakan lewat kematian dan kebangkitanNya?

Source link