Setelah Paulus dan Barnabas selesai berbicara, berkatalah Yakobus: ‘Hai saudara-saudara, dengarkanlah aku: Simon telah menceriterakan, bahwa sejak semula Allah menunjukkan rahmat-Nya kepada bangsa-bangsa lain, yaitu dengan memilih suatu umat dari antara mereka bagi nama-Nya. Hal itu sesuai dengan ucapan-ucapan para nabi seperti yang tertulis…’.” (Kisah Para Rasul 15:13-15 – TB).

Bob Utley memberikan catatan tentang tokoh Yakobus yang disebut disini, demikian, “‘Yakobus’ ini bukan Yakobus, rasul [murid Yesus], karena ia dibunuh dalam Kis. 12:1-2. Dia [Yakobus yang disebut disini] adalah saudara tiri Yesus yang menjadi pemimpin gereja Yerusalem dan penulis Surat Yakobus dalam PB. Dia dikenal sebagai ‘Yakobus yang Adil’. Dia kadang-kadang disebut ‘lutut unta’ karena ia sangat sering berdoa dengan berlutut.” Jadi, tradisi mencatat, Yakobus dalam pasal ini adalah seorang pendoa.

Menarik karena pendoa ini memerlihatkan kualitas yang sangat istimewa dalam Sidang Yerusalem yang tercatat di Kisah Para Rasul 15 ini. Sebagai pendoa, dia adalah seorang pendengar yang baik.

Pertama-tama, ia mendengarkan oranglain. Ayat 13 mencatat bagaimana Yakobus memberi kesempatan kepada Paulus dan Barnabas untuk berbicara, dan baru setelah itu ia memenuhi gilirannya untuk berbicara. Ayat 14 memerlihatkan bagaimana ia menanggapi laporan Petrus tentang karya Allah terhadap orang-orang non-Yahudi. Ia menyimak sungguh perkataan sesamanya, dan ini nyata kemudian dari kemampuan yang ditunjukkannya, menyimpulkan maksud perkataan Petrus terkait keadaan di ladang pelayanan.

Namun, yang kedua, kualitas rohani dari si pemimpin jemaat ini adalah mendengarkan Firman Allah. Menyimpulkan apa yang ia dengar dari sesamanya, Yakobus, segera memikirkan apa kata kitab suci tentang hal ini (ayat 15). Nampaknya, tokoh gereja yang satu ini sangat dikuasai oleh Firman. Ia adalah pendengar yang baik terhadap apa yang Allah coba katakan, secara khusus melalui FirmanNya yang tertulis.

Sebagai anak-anak Allah yang telah mengalami karya penyelamatan Yesus Kristus yang telah mati dan bangkit, apakah kita adalah pendoa yang mendengarkan? Adakah telinga kita juga terbuka untuk mendengarkan sesama dan terutama Allah dengan FirmanNya? Apakah pikiran kita begitu dikuasai Firman Allah sehingga dengan segera pikiran kita akan memikirkan apa isi hati Allah terhadap isu-isu yang Ia ijinkan untuk kita hadapi?

Source link